KLH Soroti Longsor Cisarua: Curah Hujan Bukan Faktor Utama, Tata Ruang Jadi Rapuh
BANDUNG BARAT – Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, memberikan perhatian serius terhadap bencana tanah longsor yang menimpa Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Berdasarkan tinjauan langsung pada Minggu (25/1/2026), Hanif menegaskan bahwa pemulihan ekosistem dan perbaikan tata ruang merupakan harga mati untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.
Anomali Data: Mengapa Curah Hujan 68mm Menjadi Petaka?
Berdasarkan data BMKG, wilayah Cisarua diguyur hujan rata-rata 68 mm/hari selama empat hari berturut-turut. Secara teknis, angka ini belum masuk kategori ekstrem jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.
Namun, Hanif menjelaskan bahwa curah hujan tersebut hanyalah “pemicu” (trigger), sementara penyebab utamanya adalah kerapuhan struktur tutupan lahan.
“Ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang perlu kita evaluasi secara mendalam. Perubahan fungsi lahan dan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan menjadi faktor kunci,” tegas Hanif dalam keterangan resminya, Senin (26/1/2026).
3 Faktor Penyebab Longsor di Bandung Barat
Selain curah hujan, KLH mengidentifikasi tiga masalah utama yang memperparah risiko bencana di Desa Pasirlangu:
-
Karakteristik Geologi & Lereng: Kemiringan lereng yang curam tanpa penguatan struktur alami.
-
Alih Fungsi Lahan Pertanian: Pembukaan lahan untuk pertanian masyarakat yang mengabaikan kaidah berkelanjutan.
-
Hilangnya Vegetasi: Penipisan tutupan lahan dan minimnya sistem terasering yang berfungsi menahan laju air.
Strategi Mitigasi: Audit Tata Ruang dan Melibatkan Ahli
Ke depan, KLH berkomitmen untuk tidak sekadar melakukan penanganan parsial. Berikut adalah langkah strategis yang akan diambil:
-
Audit Rencana Tata Ruang: Pemerintah pusat akan mendampingi pemerintah daerah untuk mengevaluasi kembali zonasi pemanfaatan lahan.
-
Tim Multidisiplin: Menurunkan tim ahli untuk mengkaji penyebab longsor dari sisi geologi hingga ekologi.
-
Mitigasi Berbasis Ekosistem: Penguatan vegetasi pada lereng kritis sebagai solusi jangka panjang yang permanen.
Topik Pembahasan Menarik (Update Berita)
Untuk memperkaya ulasan berita, berikut adalah beberapa sudut pandang (angle) tambahan yang bisa dikembangkan:
1. Nasib Petani vs Pelestarian Lingkungan
Bagaimana pemerintah memberikan solusi bagi petani di Cisarua agar tetap bisa bercocok tanam tanpa merusak lereng? Isu mengenai “Agroforestri” (perpaduan hutan dan pertanian) menjadi topik hangat untuk didiskusikan sebagai solusi ekonomi-ekologi.
2. Digital Twin & Teknologi Mitigasi
Mengingat Bandung Barat adalah wilayah rawan, mungkinkah pemerintah menerapkan teknologi Early Warning System (EWS) berbasis sensor tanah yang terkoneksi langsung ke ponsel warga?
3. Dampak Urbanisasi dan Wisata ke Lahan Kritis
Kecamatan Cisarua berbatasan dengan kawasan wisata. Apakah masifnya pembangunan vila dan penginapan ikut berkontribusi pada menipisnya daya serap air di wilayah tersebut?
